PROFIL PERESEPAN TERAPI DIARE PADA PASIEN BALITA DI RAWAT INAP RUMAH SAKIT ISLAM JEMURSARI SURABAYA (Studi dilakukan di Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya)

RINI, YUNITA SETIA ANDA (2022) PROFIL PERESEPAN TERAPI DIARE PADA PASIEN BALITA DI RAWAT INAP RUMAH SAKIT ISLAM JEMURSARI SURABAYA (Studi dilakukan di Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya). Diploma thesis, Akademi Farmasi Surabaya.

[img] Text
COVER.pdf

Download (67kB)
[img] Text
RINGKASAN.pdf

Download (129kB)
[img] Text
COVER DALAM - DAFTAR ISI.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (1MB)
[img] Text
BAB I.pdf

Download (35kB)
[img] Text
BAB II - VI.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (193kB)
[img] Text
DAPUS.pdf

Download (100kB)
[img] Text
LAMPIRAN.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (120kB)

Abstract

Penyakit diare masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang termasuk Indonesia dan merupakan salah satu penyebab kematian dan kesakitan tertinggi pada anak usia di bawah 5 tahun. Diare adalah buang air besar yang terjadi pada bayi dan anak yang sebelumnya nampak sehat, dengan frekuensi tiga kali atau lebih per hari, disertai perubahan tinja menjadi cair, dengan atau tanpa lendir dan darah. Apabila pada diare pengeluaran cairan melebihi pemasukan maka akan terjadi defisit cairan tubuh, maka akan terjadi dehidrasi. Balita (Anak bawah lima tahun) atau anak yang telah menginjak usia 1 tahun keatas lebih rentan terkena diare karena daya tahan tubuhnya masih rendah dibandingkan orang dewasa, Selain itu kerentanan infeksi pada anak khususnya terhadap bakteri penyebab penyakit saluran pencernaan seperti diare juga disebabkan karena secara fisiologis sistem pencernaan pada anak belum cukup sempurna. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran umum profil peresepan terapi diare pada balita di rawat inap Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya meliputi bentuk sediaan, dosis dan frekuensi, kombinasi peresepan dan lama rawat inap pasien balita dengan diagnosis utama diare. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan mengumpulkan data secara retrospektif pada pasien balita dengan diagnosis utama diare periode bulan Oktober 2020 – Desember 2020 di Rumah Sakit Islam Jemursai Surabaya. Jumlah KCO (Kartu Catatan Obat Pasien) pada penelitian ini sebanyak 44 sampel. Dari hasil penelitian sebanyak 31 pasien dari 44 pasien yang diteliti dengan presentase 70,45% berusia 1-2 tahun, Berdasarkan karakteristik jenis kelamin dari 44 pasien balita dengan diagnosis diare yang diteliti diantaranya sebanyak 27 pasien berjenis kelamin Laki-laki (61,36%) dan sebanyak 17 pasien berjenis kelamin Perempuan (38,64%). Berdasarkan penelitian di Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya periode Oktober 2020 – Desember 2020, didapatkan hasil bahwa bentuk sedian obat terbanyak yang digunakan yaitu cairan infus. Sebanyak 100% (44 pasien) cairan infus digunakan pada seluruh pasien dengan diagnosis diare pada rawat inap dikarenkan berdasarkan pada pedoman tata laksana diare yang harus diberikan pertama adalah cairan rehidrasi (20). Dari hasil penelitian Penggunaan cairan infus yang terbanyak adalah menggunakan cairan infus Kaen 3b sebanyak 36 pasien (81,82%), sebanyak 2 pasien (4,55%) mendapat cairan infus Tridex 27 B. 6 pasien (13,63%) mendapatkan cairan infus D5 ¼ NS. Pada penelitian Dosis dan frekuensi pemberian cairan infus setiap balita berbeda dikarenakan usia, berat badan, variasi diare dan tingkat dehidrasi yang berbeda. Pada pedoman tata laksana diare terapi berikutnya yang direkomendasikan setelah pemberian cairan rehidrasi adalah zinc (20). Berdasarkan hasil dari penelitian di Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya periode Oktober 2020 – Desember 2020 untuk pemberian zinc pada 44 pasien yang diteliti, sebanyak 24 pasien (54,54%) yang mendapat terapi zinc yang berbentuk sirup dengan dosis 20 mg. frekuensi dan dosis yang di dapat dari penelitian ini adalah 1x sehari dengan dosis 1 sendok takar selama 10 hari, dan pada 20 pasien (45,45%) tidak mendapatkan terapi zinc. Penambahan suplemen zinc memiliki efek terapi dalam meningkatkan sistem kekebalan tubuh balita sehingga mempercepat pemulihan kesehatan sehingga dapat mencegah resiko terulangnya kemunculan pada diare pada 2-3 bulan setelahnya (34). Berdasakan pedoman tata laksana diare setelah pemberian cairan rehidrasi dan zinc terapi berikutya yang di rekomendasikan adalah pemberian antibiotik. Tetapi tidak semua kasus diare memerlukan antibiotik, antibiotik hanya diberikan jika ada indikasi, seperti diare berdarah atau diare karena kolera, atau diare dengan disertai penyakit lain (27). Berdasarkan hasil dari penelitian di Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya periode Oktober 2020 – Desember 2020 sebanyak 31 pasien (70,45%) dari 44 pasien mendapat terapi antibiotik. Ceftriaxon adalah antibiotik golongan cephalosporin yang bekerja dengan cara menghambat sintesis dinding sel bakteri(36). Dosis rekomendasi ceftriaxone injeksi pada diare adalah 100mg/kg/hari dengan frekuensi 1 atau 2x sehari (37). Dari hasil penelitian dosis ceftriaxone terbanyak yaitu 1x sehari 1000mg sebanyak 7 pasien. Selain antibiotik ceftriaxone terdapat 2 (4,55%) pasien yang mendapat antibiotik Metronidazole. Metronidazol menjadi terapi obat lini pertama untuk infeksi clostridium difficile sejak tahun 1970 dengan dosis rekomendasi 250mg 4 x sehari atau 500mg 3 x sehari (38), Dari hasil penelitian balita yang mendapatkan terapi Metronidazol berbentuk larutan oral atau syrup dengan frekuensi 3x sehari dan dosis 1 sendok takar (125mg), Terapi antibiotik selanjutnya adalah Ampicillin dan Ampicillin sulbactam, dari hasil penelitian didapatkan terdapat 5 pasien (11,36%) mendapat antibiotik Ampicillin dan 5 pasien (11,365) mendapat terapi Ampicillin sulbactam. Ampicillin dan Ampicillin sulbactam adalah antibiotik golongan penicillin yang aktif terutama pada bakteri gram positif dan beberapa gram negatif. Antibiotik golongan ini digunakan untuk mengobati infeksi pada saluran nafas bagian atas (hidung dan tenggorokan). Selain mempunyai aktivitas terhadap bakteri gram positif, juga mencakup mikroorganisme Gram negatif, seperti Haemophilus influenzae, Escherichia coli, dan Proteus mirabili (36). Pada hasil penelitian pasien yang mendapat antibiotik golongan penicillin juga memiliki penyakit penyerta yaitu bronchopneumonia, sehingga pemberian antibiotik Ampicillin dan Ampicillin sulbactam selain untuk diare pasien juga ditujukan untuk pengobatan penyerta pasien.Gentamycin injeksi diresepkan pada 2 pasien (4,55%) dengan frekuensi 1x sehari dan dosis 40mg–80mg. digunakan untuk terapi pengobatan pada diare (36). Dosis yang direkomendasikan 2 mg/kgBB (37). Kekurangan dari penelitian yang saya lakukan adalah tidak secara langsung melihat Rekam Medis setiap pasien sehingga saya sebagai peneliti tidak bisa melihat ada tidaknya hasil laboratorium pemeriksaan tinja pasien. Berdasarkan penelitian di Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya periode Oktober 2020 – Desember 2020, Dari 44 pasien terdapat 39 pasien (88,64). Pemberian jenis probiotik terbanyak yang digunakan pada terapi diare di RSI Jemursari Surabaya adalah Lacto b sachet sebanyak 31 pasien (70,46%) dosis diberikan 2x sehari 1 sachet. Probiotik tidak diresepkan kepada seluruh pasien, karena pemberian probiotik sebenarnya bukan terpai utama pada tata laksana pasien diare melainkan terapi tambahan yang dianjurkan menurut WHO. Dari hasil penelitian terdapat 1 pasien (2,27%) mendapatkan terapi vitamin A berbentuk puyer dengan dosis 1x sehari 5000 IU. Pada dosis vitamin A yang dianjurkan oleh kemenkes menurut pstaka yaitu pada usia 6-12 bulan berwarna biru dengan dosis 100.000 IU dan lebih dari 12 bulan berwarna merah dengan dosis 200.000 IU adalah dosis yang biasa anak proleh di posyandu atau puskesmas (26). Vitamin A mempunyai peran penting dalam pemeliharaan sel epitel, oleh karena itu vitamin A sangat berperan dalam imunitas tubuh, dimana dalam keadaan kekurangan vitamin A, integritas mukosa epitel usus terganggu, keadaan ini sebagian besar disebabkan karena hilangnya sel goblet. Penggunaan vitamin A dapat membantu memperbaiki epitel intestinal yang rusak akibat infeksi akut (1) Hasil penelitian kombinasi peresepan terapi diare di Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya periode Oktober 2020 – Desember 2020, terdapat 7 macam kombinasi peresepan, kombinasi terbanyak yaitu kombinasi (cairan infus, probiotik, zinc dan antibiotik) sebanyak 15 pasien (34,10%), Dari hasil penelitian, pengobatan diare pasien balita yang rawat inap di Rumah Sakit Islam Jemursari tidak seluruhnya sesuai dengan tata laksana diare (14) yaitu antara lain, pemberian cairan rehidrasi sudah sesuai diberikan kepada seluruh pasien (100%), pemberian zinc belum sesuai (54,54%) hanya diberikan kepada 24 pasien, Untuk terapi antibiotik sudah seseuai karena antibiotik diberikan secara selektif berdasarkan pemeriksaan laboratorium diberikan kepada 31 pasien (70,45%) dan untuk terapi tambahan lainnya yaitu pemberian probiotik sebanyak 39 pasien (88,63%), dan vitamin A hanya pada 1 pasien (2,27%). Dari hasil pasien balita yang rawat Inap di Rumah Sakit Islam Jemursari dengan diagnosis diare periode 2020 Oktober – Desember 2020 pada penelitian didapatkan hasil bahwa waktu lama perawatan yang paling banyak ditemui adalah 3 - 4 hari sebanyak 24 pasien (54,56%) Dari hasil penelitian lama rawat inap pasien di Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya periode Oktober 2020- Desember 2020 tingkat dehidrasi pasien tidak berpengaruh pada lama rawat inap melainkan pasien dengan diagnosis diare dengan penyakit penyerta yang membuat pasien rawat inap lebih lama (5 hari lebih) dengan penyakit penyerta seperti demam, muntah, riwayat kejang, infeksi saluran kemih, radang paru dan penyakit penyerta lainnya.

Item Type: Thesis/Diploma (Diploma)
Subjects: Kesehatan > Farmasi > Farmasi Klinis Komunitas dan Manajemen Farmasi
Depositing User: Elvia Ikasari
Date Deposited: 21 Feb 2022 06:25
Last Modified: 21 Feb 2022 06:25
URI: http://repository.akfarsurabaya.ac.id/id/eprint/488

Actions (login required)

View Item View Item